Today's Note

Tuangkan Isi Hatimu, Pikiranmu, Benakmu, Keinginanmu, Kenanganmu Dalam Tulisan, Karena S'mua Itu Tidak Bisa Kembali Lagi Untuk Kedua Kali.....

Minggu, 25 Januari 2009

Outlook Perekonomian Indonesia Tahun 2009

Tahun 2009, Stabilitas Politik, Sosial dan Ekonomi Indonesia Dipertaruhkan

Global Crisis, berawal dari krisis di Amerika Serikat, banyak yang tidak pernah menyangka negara adidaya itu kini mangalami resesi, bahkan resesi Amerika ini kini menimbulkan masalah bagi hampir semua negara di dunia ini dan dampaknya yang kian meluas, termasuk Indonesia, pelan tapi pasti efek dari krisis ini menggerogoti stabilitas perekonomian dalam negeri. Mulai dari sektor financial yang beberapa waktu lalu dibuat heboh, kebijakan BI untuk menaikkan tingkat suku bunga memang baik, agar masyarakat terdorong untuk menyimpan uang mereka di Bank, sehingga perilaku konsumtif masyarakat Indonesia tidak semakin tinggi yang akan mengakibatkan inflasi dan turunnya nilai riil rupiah, inflasi itu sendiri adalah kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus. dampak krisis keuangan global akan menghantam sektor riil. Semua negara memang mengalami pelambatan, namun ada perbedaan perlakuan. Indonesia tidak mengalami deflasi seperti AS, namun inflasi. Kemudian, karena tidak perlu melemahkan nilai tukar untuk memicu pertumbuhan ekonomi, maka Indonesia pun bisa menerapkan suku bunga di level tinggi. Itu karena sistem perekonomian dan kondisi tiap Negara berbeda-beda.
Kebijakan di sektor riil sangat penting pada second round dari krisis keuangan global saat ini. Krisis global telah memukul sektor keuangan yaitu lembaga keuangan, pasar saham, dan nilai tukar. Krisis global mangakibatkan perbankan mengalami kekurangan likuiditas dan pasar modal mengalami koreksi sangat tajam. Jika bank tidak memberikan kredit pada para pelaku usaha, maka akan banyak perusahaan yang tidak dapat bergerak sehingga perekonomian juga tidak bergerak. Pasar modal yang tidak bergerak, akan menimbulkan masalah pada perekonomian, karena pasar modal menyediakan sekitar 25 persen kebutuhan modal suatu perekonomian. Kondisi perbankan dan pasar modal yang tidak sehat akan berdampak kepada sektor riil. Sektor riil bisa terkena dua dampak yang tidak menguntungkan, yaitu sektor keuangan tidak mau memberikan modal kepada sektor riil dan barang produksi tidak bisa dijual atau dijual dengan harga murah karena daya beli masyarakat yang turun. Sehingga pada jangka panjang kebijakan menaikkan tingkat suku bunga atau BI rate tersebut akan memukul sektor riil, seperti yang terjadi sekarang, selain karena menurunnya ekspor Indonesia secara drastis akibat krisis yang juga dialami oleh negara-negara tujuan ekspor yang mengakibatkan penurunan demand atas barang impor, tingginya tingkat suku bunga pinjaman dirasa sangat memberatkan para pelaku industri. Pada keadaan inflasi, harga barang akan meningkat secara agregat, begitu juga dengan harga bahan baku industri yang tidak semua dapat diperoleh di dalam negeri.
Meningkatnya harga bahan baku untuk industri tersebut serta sulitnya memperoleh bahan baku impor karena dampak krisis global ini akan mengurangi produktivitas perindustrian dalam negeri. Karena tingginya bunga kredit pinjaman juga akan makin mencekik pelaku usaha, pada jangka panjang hanya ada dua pilihan bagi mereka, mengurangi jumlah pekerja atau menurunkan upah para pekerja secara keseluruhan untuk dapat bertahan dalam keadaan krisis seperti sekarang ini.
Inflasi yang tinggi dan tidak stabil juga memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat. Inflasi yang tinggi mengakibatkan penurunan pada pendapatan riil masyarakat sehingga standar hidup masyarakat juga akan turun. Yang selanjutnya akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Yaitu dalam mengambil keputusan untuk melakukan konsumsi, investasi dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara tetangga menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai rupiah. Pada dasarnya yang mengakibatkan fluktuasi pada nilai tukar rupiah adalah permintaan dan penawaran atas rupiah itu sendiri, yang menentukan kuat atau tidaknya rupiah juga permintaan dan penawaran atas rupiah. Nilai Rupiah terhadap dolar Amerika telah turun secara drastis dalam beberapa minggu terakhir, sehingga ada resiko pelarian modal dari investor domestik, yang mengakibatkan perusahaan-perusahaan mengalami kesulitan pendanaan karena cadangan valuta asing menipis.
Diperkirakan dengan adanya Pemilu pada sekitar bulan April, para politisi yang berkepentingan dalam pemilu kemungkinan besar akan membelanjakan dolar mereka dalam jumlah besar untuk proses kampanye, ini tidak hanya berpengaruh terhadap inflasi dalam negeri, tetapi juga terhadap nilai tukar rupiah, jika permintaan rupiah bertambah terhadap dolar, maka rupiah akan perlahan bergerak ke level yang lebih kuat. Inflasi akan berada di level 5%-7%. Kemungkinan, kurs rupiah tahun depan akan berada di sekitar Rp. 10.000 hingga Rp. 11.000, setelah krisis yang sekarang masih berlangsung rupiah akan bergerak menentukan keseimbangan baru. Jika berada diatas Rp. 11.000 berarti terjadi undervalued, sebaliknya jika di bawah Rp. 10.000 berarti overvalued. BI rate akan turun sekitar 8% pada tahun depan seiring dengan stabilisasi rupiah.
Pada dasarnya, pertumbuhan suatu negara dipengaruhi empat faktor, yaitu ekspor, impor, konsumsi, dan investasi. Untuk memicu konsumsi dan kredit investasi, dibutuhkan suku bunga rendah. Sedangkan unutk memacu ekspor, nilai tukar harus ditekan agar tidak terlalu kuat terhadap mata uang lain. Jadi, peningkatan ekspor berbanding terbalik dengan nilai tukar rupiah. Namun, pada kondisi seperti sekarang ini, di mana pasar ekspor turun secara drastis, teori tersebut tidak berlaku.
Diprediksikan stabilitas politik, social dan ekonomi Indonesia akan mengalami guncangan seperti tahun 1998-1999, akibat krisis global yang sekarang dampaknya makin meluas pada berbagai sektor di dalam negeri. Ancaman gelombang PHK besar-besaran pada tahun 2009 sudah di depan mata. Hal ini sangat meresahkan para buruh , beberapa pekan ini dapat dilihat di media cetak dan elektronik demo buruh yang menolak adanya pemotongan upah ataupun adanya PHK pada tahun depan. Ini dikarenakan sektor riil tak bergerak, yang akan berimplikasi pada suplai barang/jasa yang anjlok dan kemungkinan adanya PHK. Sehubungan dengan adanya pemilu tahun depan, kinerja pemerintahan yang sekarang akan sangat disorot oleh berbagai kalangan mayarakat. Ada satu pertanyaan yang entah dapat dijawab dan diatasi oleh pemerintahan yang sekarang berjalan, apakah di sisa jabatan mereka bisa memberikan harapan pertumbuhan Indonesia yang lebih baik??. Tentunya itu adalah tanggung jawab dari seluruh masyarakat Indonesia, cinta rupiah dan produk dalam negeri, mungkin itu akan mendorong pemulihan perekonomian dalam negeri. Pemerintah juga harus berupaya keras untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat bahwa krisis yang dialami Indonesia masih bias diatasi.
Sementara itu, alangkah baiknya jika pembangunan infrastruktur semakin ditingkatkan, agar pertumbuhan ekonomi di dalam negeri lancar, paling tidak tidak semakin buruk atas terjadinya krisis global ini.

Selasa, 20 Januari 2009

my campus



let's take a look for my campus
it's quite crowded now, there are less trees...
i really don't like it!!!!

about ME

Rabu, 03 Desember 2008

Teori Pertumbuhan Pembangunan Ekonomi

• Teori Klasik

A. Teori Klasik Adam Smith
Beliau meyakini berlakunya doktrin “hukum alam” dalam persoalan ekonomi. Ia menganut paham perdagangan bebas dan penganjur kebijaksanaan “pasar bebas” dalam ekonomi.Pembagian kerja (spesialisasi) merupakan titik mula dari teori pertumbuhan ekonomi Adam Smith,yang meningkatkan daya produktivitas tenaga kerja. Yang dihubungkan dengan meningkatnya keterampilan pekerja, penghematan waktu dalam memproduksi barang, dan penemuan mesin yang sangat menghemat tenagaProses pemupukan modal harus dilakukan terlebih dahulu daripada pembagian kerja.
Pada kondisi yang stasioner, tingkat upah akan jatuh sampai ke tingkat yang hanya cukup untuk hidup, sedangkan dalam periode pemupukan modal yang cepat,tingkat upah naik melebihi tingkat kebutuhan hidup.Investasi dilakukan karena para pemilk modal mengharapkan untung, dan pada masa depan harapan keuntungan bergantung pada iklim investasi pada hari ini dan pada keuntungan nyata. Adanya peningkatan kemakmuran, kemajuan dan jumlah penduduk, tingkat suku bunga akan menurun, dan akibatnya persediaan modal akan membengkak. Jadi, dengan menurunnya tingkat suku bunga, jumlah modal yang dipinjamkan akan meningkat, tetapi bila suku bunga terlalu rendah, para “lintah darat” tidak sanggup untuk meminjamkan uang lebih banyak lagi. Walaupun tingkat suku bunga menurun, akan terjadi peningkatan pemupukan modal dan kemajuan ekonomi.
Menurut Smith, para petani, produsen dan pengusaha merupakan agen kemajuan dan pertumbuhan ekonomi, perdagangan bebas mendorong mereka memperluas pasar.Dengan menganggap benar faktor-faktor kelembagaan,politik,dan alam,suatu bangsa akan mengalami laju pertumbuhan ekonomi tertentuyang tercipta karena naiknyajumlah mereka dan melalui tabungan. Ini bersifat kumulatif.Teori Smith menunjukan bagaimana pertumbuhan ekonomi terjadi dan faktor-faktor serta kebijaksanaan apa yang menghambatnya.
Kelemahan teori Smith:
1. Pembagian masyarakat secara lugas
2. Alasan yang tidak adil bagi kegiatan menabung
3. Asumsi yang tidak realistis tentang persaingan sempurna
4. Pengabaian wiraswasta (pengusaha)
5. asumsi yang tidak realistis tentang keadaan stasioner.

B. Teori Ricardian
Teori Ricardian didasarkan pada asumsi bahwa:
1. seluruh tanah digunakan untuk produksi gandum dan angkatan kerja dalam pertanian membantu mementukan distribusi industri;
2. “law of diminishing return” berlaku bagi tanah;
3. persediaan tanah adalah tetap;
4. permintaan gandum benar-benar elastis;
5. buruh dan modal adalah masukan yang bersifat variable;
6. keadaan pengetahuan teknis adalah tertentu (given)
7. seluruh buruh dibayar dengan upah yang cukup untuk hidup secara minimal;
8. penawaran harga buruh adalah tertentu dan tetap;
9. permintaan akan buruh tergantung pada pemupukan modal;
10. terdapat persaingan yang sempurna;
11. pemupukan modal dihasilkan dari keuntungan.
Ricardo menyetujui perdagangan bebas, dengan cara ini sumberdaya dunia dapat digunakan secara lebih efisien melalui perdagangan luar negeri.
Ada kecenderungan bahwa tingkat keuntungan akan menurun dalam perekonomian, sehingga Negara akhirnya mencapai keadaan stasioner.
Kelemahan teori Ricardian:
1. mengabaikan pengaruh teknologi;
2. pengertian yang salah mengenai keadaan stasioner;
3. pengertian yang salah tentang penduduk;
4. kebijaksanaan pasar bebas yang tidak dapat diterapkan;
5. mengabaikan factor-faktor kelembagaan;
6. merupakan teori distribusi,bukan teori pertumbuhan;
7. tanah juga menghasilkan selain gandum;
8. modal dan buruh bukanlah koefisien yang tetap;
9. mengabaikan tingkat suku bunga.

C. Teori Malthus
Malthus menganggap proses pembangunan ekonomi terjadi dengan sendirinya, Dia menekankan bahwa perekonomian mengalami kemerosotan beberapa kali sebelum mencapai tingkat tertinggi dari pembangunan. Malthus menitikberatkan pada pembangunan ekonomi yang dapat dicapai dengan meningkatkan kesejahteraan suatu negara. Dia lebih realitas dalam menganalisa pertumbuhan pendudukdalam kaitannya dengan pembangunan ekonomi dibandingkan pada bukunya Essay of Population. Produksi dan distribusi dianggap sebagai dua unsur utama kesejahteraan. Menurutnya, factor yang paling penting bagi pembangunan ekonomi adalah proses akumulasi modal.
Malthus mengatakan bahwa di dalam pasar tidak mungkin terjadi over produksi atau penawaran yang berlebihan,komoditi dalam jumlah yang besar ditukarkan dengan dengan tenaga kerja. Dia meyakini bahwa penarawan buruh dalam jangka pendek sangat tidak elastis.
Langkah-langkah untuk meningkatkan pembangunan ekonomi menurut Malthus:
1. Pertumbuhan berimbang
2. menaikkan permintaan efektif
Penyebab utama keterbelakangan adalah rendahnya konsumsi atau kurangnya permintaan efektif yang menimbulkan persediaan melimpah. Untuk pembangunan, Negara harus memaksimisasi produksi di sector pertanian dan industri.


• Teori Neo Klasik

A. Robert Sollow

Menurutnya pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh:
• Pertumbuhan Penduduk (SDM)
• Akumulasi Modal
• Teknologi Modern
Solow menunjukkan bagaimana tabungan, pertumbuhan populasi, dan kemajuan teknologi mempengaruhi tingkat output perekonomian dan pertumbuhannya sepanjang waktu.

B. Roy Forbes Harrod dan Evsey D. Domar

Pertumbuhan Ekonomi dipengaruhi oleh pertambahan modal, yang akan meningkatkan produksi dan pada akhirnya menaikkan pendapatan nasional
Pada model Harrod-Domar investasi diberikan peranan yang sangat penting. Dalam jangka panjang investasi mempunyai pengaruh kembar. Di satu sisi investasi mempengaruhi permintaan agregat di sisi lain investasi mempengaruhi kapasitas produksi nasional dengan menambah stok modal yang tersedia.


• Teori Modern

Teori Walt Whitman Rostow
Dalam bukunya : “The Stages of Economic Growth” membagi pertumbuhan ekonomi menjadi 5 tahap, yaitu:
1. Masyarakat Tradisional
Diartikan sebagai suatu masyarakat yang strukturnya berkembang di sepanjang fungsi produksi berdasarkan ilmu dan teknologi pra-Newton dan sebagai hasil terhadap dunia fisika.
2. Pra – Lepas landas
Ini adalah masa transisi dimana prasyarat pertumbuhan swadaya dibangun. Pembangunan yang berkesinambungan dan perluasan industri modern dapat terjadi terutama dengan menanamkan kembali keuntungan ke saluran investasi yang menguntungkan.
3. Lepas Landas
Tahap ini merupakan titik yang menentukan di dalam kehidupan suatu masyarakat. Lepas landas merupakan revolusi industri yang bertalian secara langsung dengan perubahan radikal di dalam metode produksi yang dalam jangka waktu relatif singkat menimbulkan konsekwensi yang menentukan.
4. Dorongan Menuju Kedewasaan
Pada waktu suatu negara berada pada tahap kedewasaan teknologi, ada tiga perubahan penting yang terjadi:
• Sifat tenaga kerja berubah
• Watak para pengusaha berubah
• Masyarakat merasa bosan pada keajaiban industrialisasi dan menginginkan sesuatu yang baru menuju perubahan lebih lanjut.
5. Konsumsi Tinggi
Ditandai dengan migrasi dari pinggiran ke kota. Kekuatan yang nampak cenderung meningkatkan kesejahteraan,yaitu:
• penerapan kebijaksanaan nasional guna meningkatkan kekuasaan dan pengaruh melampaui batas nasional
• ingin memiliki satu negara kesejahteraan dengan pemerataan pendapatan nasional yang lebih adil melalui pajak progresif, peningkatan jaminan sosial, dan fasilitas hiburan bagi para pekerja.
• Keputusan untuk membangun pusat perdagangan dan sektor penting

Senin, 17 November 2008

PEMILU = PEMBOROSAN ( dari sudut pandang ekonomi)

IS IT RIGHT?????


yupz...
kalo menurutq pribadi sich,,,,,q gak setuju dengan mekanisme pemilu yang sekarang, partai itu gak usah banyak2 yang penting tujuan dari pemilu itu tercapai dan sukses dunia ahkirat!!!!!!!
memang negara kita ini demokratis, tapi yang ada sekarang tu hanya gembar-gembor membesarkan nama partai atau tokoh yang akan dicalonkan jadi presiden.bukan begitu??? berapa budget untuk membuat iklan di TV dan ditayangkan berkali-kali????
hufffhhhh.....
mending untuk yang lebih bermanfaat,apalagi buat yang sangat membutuhkan( kan di Indonesia yang seperti itu gak kehitung pake jari banyaknya)
apalagi kalo dilihat dari sudut pandang ekonomi ya....
pake logika aja yach,,,,beberapa partai besar yang dari duluuuu kala memiliki mayoritas suara ampe kapanpun kemungkinan akan tetap sama (paling berubah dikit-dikit aja)
So,,,,,
kalo dalam ekonomi mikro nech ya kayak keadaan di pasar monopoli. tau kenapa?
perusahaan baru susah mau masuk ke dalam pasar dan merebut konsumen perusahaan yang udah lebih dulu di dalam pasar.karena tentunya Cost yang mesti dikeluarkan perusahaan baru pasti tinggi,konsumen gak mau donk beli barang mahal dengan kualitas gak jelas,apalagi merek baru.
perusahaan yang udah lama tuch,kalo Q yang diproduksi meningkat,AC nya turun,barang2 yang dijual kan jd murah,,,,,,mau mau mau,,,,,

partai juga kayak gitu,,,,
kalo partai baru,otomatis publikasinya besar2an dukz,,,,,,,,
kan orang2 lum pada tau mereka sapa,,,,,,,





hmmmmmmm...........

PERKEMBANGAN INDUSTRIALISASI DI KABUPATEN TUBAN “Kawasan Industri Kerek”

Teori Lokasi

Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi. Atau dapat juga diartikan sebagai ilmu tentang alokasi secara geografis dari sumber daya yang langka, serta hubungannya atau pengaruhnya terhadap lokasi berbagai macam usaha atau kegiatan lain (activity). Secara umum, pemilihan lokasi oleh suatu unit aktivitas ditentukan oleh beberapa faktor seperti: bahan baku lokal (local input); permintaan lokal (local demand); bahan baku yang dapat dipindahkan (transferred input); dan permintaan luar (outside demand).
Menurut teori Weber pemilihan lokasi industri didasarkan atas prinsip minimisasi biaya. Weber menyatakan bahwa lokasi setiap industri tergantung pada total biaya transportasi dan tenaga kerja di mana penjumlahan keduanya harus minimum. Tempat di mana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum adalah identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum. Ada tiga faktor yang mempengaruhi lokasi industri, yaitu biaya transportasi, upah tenaga kerja, dan kekuatan aglomerasi atau deaglomerasi. Dalam menjelaskan keterkaitan biaya transportasi dan bahan baku Weber menggunakan konsep segitiga lokasi atau locational triangle untuk memperoleh lokasi optimum. Untuk menunjukkan apakah lokasi optimum tersebut lebih dekat ke lokasi bahan baku atau pasar, Weber merumuskan indeks material (IM), sedangkan biaya tenaga kerja sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi lokasi industri dijelaskan Weber dengan menggunakan sebuah kurva tertutup (closed curve) berupa lingkaran yang dinamakan isodapan (isodapane). Weber menggunakan segitiga dalam lokasi yang optimal adalah selalu berada.


Angka di atas memperlihatkan persoalan meminimalkan biaya transportasi. Mengingat produk dari w (M) ton yang akan ditawarkan di pasar F, w (S1) dan w (S2) ton bahan-bahan yang berasal dari masing-masing S1 dan S2 yang diperlukan. Masalahnya berada dalam mencari lokasi pabrik yang optimal P terletak di masing-masing jarak d (M), d (S1) dan d (S2). Beberapa metodologi dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah seperti menggambar sebuah analogi ke sistem dan bobot pulleys (Varignon's solusi) atau menggunakan trigonometri. Cara lain pilihan antara geographers, terutama dengan SIG, adalah dengan menggunakan biaya yang overlayed permukaan.
Weber menjelaskan teori lokasi baik lokasi industri berat, terutama dari revolusi industri hingga pertengahan abad kedua puluh. Kegiatan yang memiliki tingkat tinggi menggunakan bahan baku cenderung untuk mencari sumber pasokan dekat, seperti pabrik alumunium locating dekat sumber energi (listrik) atau port situs. Kegiatan menggunakan bahan baku di mana-mana, seperti air, cenderung dekat dengan lokasi pasar. Untuk menilai masalah ini, Weber mengembangkan bahan indeks yang cukup berat dari masukan dibagi dengan berat akhir produk. Jika bahan indeks yang lebih besar dari 1, lokasi cenderung ke arah bahan sumber. Jika kurang dari 1 , Lokasi cenderung ke arah pasar.

Perkembangan Suatu Kawasan Industri
Suatu kawasan (region) berkembang secara menyebar, berasal dari satu titik (pusat kota).Setiap perkembangan yang terjadi pada suatu kawasan terutama perkembangan dalam sektor industri akan mendorong perkembangan sektor-sektor lainnya, maka dalam hal ini perkembangan kawasan mempunyai dampak terhadap perkembangan kota disekitarnya. Perkembangan suatu kawasan (region) yang akan diikuti perkembangan kawasan lain di sekitarnya sangat dipengaruhi oleh peran dari transportasi. Transportasi sangat penting peranannya bagi suatu daerah. karena menyediakan akses bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa sehari-hari, serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi. Kegiatan ekonomi masyarakat ini akan berkembang apabila mempunyai prasarana dan sarana transportasi yang baik untuk aksesibilitas. Aksesibilitas ini dapat memacu proses interasi antar wilayah sampai ke daerah yang paling terpencil sehingga tercipta pemerataan pembangunan. Semakin kecil biaya transportasi antara lokasi bahan baku menuju pabrik dan lokasi pemasaran maka Total Cost-nya juga semakin kecil. Inilah alasan adanya aglomerasi, yaitu pengelompokkan beberapa perusahaan dalam suatu daerah atau wilayah sehingga membentuk daerah khusus industri. Ini bertujuan untuk meminimumkan biaya.
Perkembangan suatu kawasan industri memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, memudahkan dalam hal penyediaan sarana infrastruktur yang diperlukan oleh pabrik –pabrik dalam melakukan produksinya. Dengan menggabungkan beberapa industri dalam satu kawasan, maka pemenuhan fasilitas sarana dan prasarana yang menunjang dan diperlukan untuk proses industri dapat dipenuhi lebih mudah karena dikumpulkan dalam satu kawasan dan lebih murah sifatnya, karena dapat digunakan secara bersama – sama. Ini akan membuka lapangan pekerjaan baru, yang akan membuka lapangan pekerjaan baru di pabrik yang dapat menyerap ribuan buruh / tenaga kerja. Sehingga pendapatan masyarakat dapat menjadi meningkat yang disertai juga dengan peningkatan SDM-nya.
Perkembangan suatu industri biasanya terjadi secara mengelompok, ini disebabkan oleh faktor sumberdaya, aglomerasi juga berperan didalamnya, usaha-usaha yang sejenis akan dikelompokkan, itu terjadi pada berbagai macam industri, hasilnya seperti ada batas antar tiap jenis industri di suatu kawasan. Sehingga akan mempermudah dalam proses produksi hingga pendistribusian.


Keadaan Umum Kabupaten Tuban
Kabupaten Tuban terletak pada 111,30’-112,35’ Bujur Timur dan 6,40’-7,18’ Lintang Selatan. Di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah selatan dengan Kabupaten Bojonegoro, sebelah timur dengan Kabupaten Lamongan, dan sebelah barat dengan Propinsi Jawa Tengah.
Luas wilayah daratan Kabupaten Tuban adalah 1.839,94 km2 dengan panjang pantai 65 km dan luas wilayah lautan sebesar 22.608 km2. Luas wilayah 1.839,94 km2 terbagi dalam 19 kecamatan, 311 desa, dan 17 kelurahan. Berdasarkan data tahun 2004 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk laki-laki 535.655 orang dan penduduk perempuan berjumlah 548.728 jiwa atau secara keseluruhan mencapai 1.084.383 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk mencapai 589 orang untuk setiap 1 km2.
Potensi ekonomi yang telah berkembang di Kabupaten Tuban antara lain : tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, peternakan, kayu pertukangan dan kayu bakar, industri pengolahan besar dan sedang, industri kecil dan kerajinan rumah tangga, perdagangan, hotel, dan restoran, serta hasil tambang, seperti pasir kwarsa, tanah liat, batu kapur, dan batu dolomite. Beberapa obyek pariwisata yang cukup terkenal diantaranya : Makam Sunan Bonang, Goa Akbar ,Klenteng Kwan Sin Bio, sentra industri Batik Gedog, dan lain-lain.

Perkembangan Industrialisasi Kabupaten Tuban
Industrialisasi merupakan proses merubah masyarakat dari sistem mata pencaharian pertanian ke industri. Di dalam proses ini, segala aspek masyarakat, kebudayaan dan lingkungannya turut bergeser. Hal itu nampaknya dialami juga oleh masyarakat Tuban. Perkembangan industri di Tuban mempunyai dua pola. Pertama industri secara “alami” sebagai rangkaian dari kemudahan transportasi jalur pantura, biasanya berskala menengah dan skala kecil. Pola Kedua adalah industri dalam skala besar, seperti industri semen. Dari data PDRB Kabupaten Tuban, pada periode 1998-2001, PDRB Kabupaten Tuban masih didominasi sektor pertanian, industri pengolahan, dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Meski sektor pertanian masih berada di top rank, namun tampak terjadi pergeseran struktur perekonomian, yaitu dari sektor primer (pertanian) ke sektor sekunder (pertambangan, industri, gas, listrik, dan air bersih) dan ke sektor tersier (perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, jasa perusahaan, dan jasa-jasa). Artinya, laju pertumbuhan sektor sekunder dan tersier lebih cepat dibandingkan dengan laju pertumbuhan sektor pertanian.
Tuban memang kaya akan sumberdaya, dari kekayaan laut, minyak bumi,bahan tambang dan sebagainya. Ini menyebabkan para investor tertarik untuk menanamkan modalnya di Tuban. Beberapa tahun lagi mungkin Tuban akan semakin berkembang, ini dikarenakan akan ada pabrik besar yang akan mendirikan pabrik sebagai contoh Petrokimia dan juga pembuatan saluran gas dan minyak dari Cepu ke Tuban oleh Pertamina.

Industrialisasi di Kawasan Industri Kerek
Kawasan industri di Tuban terbentang di hampir seluruh Kecamatan. Salah satu Kecamatan yang menonjol adalah Kecamatan Kerek yang berbatasan dengan Kecamatan Tambakboyo di sebelah utara dan barat, Kecamatan Singgahan dan Kecamatan Montong di sebelah selatan, serta Kecamatan Merakurak di sebelah timur. Kecamatan ini memiliki berbagai jenis industri yang sejak dahulu menjadi “icon” dari Kecamatan itu sendiri, bahkan sebagai “icon” Kabupaten tuban.
Pada awalnya batik tulis tradisional ini hanya dikenal didalam suatu wilayah kecamatan bernama kerek, khususnya didesa Margirejo, desa Gaji, desa Kedongrejo dan desa Karanglo. Karena memang di kecamatan kerek inilah pertama kali orang mulai memintal benang dan menenun kain. Dalam perkembangannya desa-desa lain yang kemudian juga ikut menghasilkan batik tulis tradisional ini antara lain desa karang, desa prunggahan kulon kecamatan semanding dan desa Sumurgung Kecamatan Tuban.
Sekarang ini, terdapat beberapa industri besar di Kecamatan ini, Industri semen, seperti PT Semen Gresik, PT Holcim yang mendirikan pabrik di sini, dan industri batik yang terkenal dengan sebutan Batik Gedog.

Aplikasi Teori Lokasi pada Industri di Kecamatan Kerek
Menurut teori, suatu industri akan lebih efisien jika dibuat mengelompok (aglomerasi), ini akan sangat memudahkan dan menguntungkan bagi produsen, karena akan meminimalkan biaya.
Di Kecamatan Kerek, terbukti teori tersebut benar. Terdapat aglomerasi pada industri batik. Sementara bagi industri berat seperti industri semen teori tersebut juga terbukti, berdasarkan teori segitiga Weber, seorang produsen akan menentukan letak pabriknya agar mendapatkan lokasi yang optimum. Pada industri semen, tentunya biaya mengangkut bahan baku semen akan lebih tinggi dibandingkan dengan biaya mengangkut semen jadi dalam kemasan. Ini sebagai alasan beberapa perusahaan semen tersebut mendirikan pabrik di Kecamatan Kerek, karena dekat dengan bahan baku sehingga biaya pengangkutan bahan baku yang berupa batu-batuan tersebut bisa ditekan, dan biaya pengangkutan semen jadi ke lokasi pendistribusian di Gresik yang tidak terlampau jauh bari Tuban tidak akan lebih tinggi. Jadi, biaya pengangkutan bahan baku ke pabrik dan biaya pengangkutan barang jadi ke pasar harus sama. Lokasi pabrik berada diantara lokasi sumber bahan baku dengan pasar.

(paper ujian tengah semester matkul Ekonomi regional)

Kamis, 06 November 2008

FRIENDSHIP



Persahabatan gak ngeliat perbedaan warna kulit,jenis kelamin,atau isi otak

karena, kita menjalinnya dengan hati yang tulus

mengisi kekosongan hati

tanpa kalian, Q hampa.....